Sabtu, 10 Desember 2011

RPP MATEMATIKA KELAS 3 SD


RPP MATEMATIKA KELAS 3 SD

Sekolah                       : SD NEGRI 16 GOMBANG
Mata Pelajaran          : Matematika
Kelas/Semester          : III / 2
Alokasi Waktu           : 1 × 35 menit

Standar Kompetensi :
ü  4. Memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana.
Kompetensi Dasar    
ü  4.2 Mengidentifikasikan berbagai jenis dan besar sudut.
Indikator                   
1.      Menjelaskan pengertian sudut.
2.      Menentukan sudut dari benda atau bangun.
3.      Menjelaskan sudut sebagai daerah yang dibatasi oleh dua sinar atau garis yang berpotongan.

A.    Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa dapat menjelaskan pengertian sudut.
2.      Siswa dapat Menentukan sudut dari benda atau bangun.
4.      Siswa dapat Menjelaskan sudut sebagai daerah yang dibatasi oleh dua sinar atau garis yang berpotongan.

& Karakter siswa yang diharapkan : Religius, Disiplin, Tekun, Teliti dan Tanggung jawab.
B.     Materi Ajar
Sudut
C.    Metode Pembelajaran
Tanya jawab, demonstrasi, diskusi, dan tugas.
D.    Langkah-Langkah Kegiatan
1
Pendahuluan
Apersepsi : 1. Guru dan siswa berdoa menurut keyakinan masing-masing.
2.      Bertanya jawab tentang sudut rumah, kelas, meja, buku, dan lain-lain.
Motivasi  : Materi ini bermanfaat bagi tukang kayu.

5 menit
2
Kegiatan Inti
& Ekplorasi
1.   Siswa diingatkan kembali pengertian sudut secara matematis dengan menunjukan bangun yang ada disekitar kelas berserta nama sudut.
2.   Siswa menjelaskan sudut sebagai daerah yang dibatasi oleh dua sinar atau garis yang berpotongan.

10
3
& Elaborasi
1.      Dengan berdialog dan berdiskusi, siswa diajak memahami berbagai jenis dan besar sudut.
2.      Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang telah ditentukan oleh Guru.

10 menit
4
& Konfirmasi:
1.      Membimbing siswa dan mengkomunikasikan hal yang belum dipahami siswa.
2.      Melakukan refleksi tentang kesulitan yang dihadapi dalam memahami materi.

5 menit
5
Penutup
1.   Guru dan Siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang sudah dibahas.
2.   Guru memberi tugas rumah.

5 menit

E. Alat dan Sumber Belajar
1. Buku Matematika III, karangan Nur Fajariyah, Defi Triratnawati, Tahun 2008, halaman 161–164.
2. Gambar dengan berbagai jenis sudut

G.    Penilaian
Teknik Penilaian
Bentuk Intrumen
Contoh Intrumen
Kuis, tes, unjuk kerja, pertanyaan

1.      Lisan
2.      Tertulis
1.      Apa yang dimaksud dengan sudut?
2.       Sebuah bangun mempunyai empat sudut yaitu A, B, C, dan D. Gambarlah bangun tersebut dan tentukan titik sudutnya!
3.       
C

A                              B
Tentukan titik sudut dan nama sudut pada bangun tersebut!


Mengetahui,
Kepala Sekolah                                                                                        Guru Kelas
____________________                                                              ____________________
NIP.                                                                                              NIP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Filsafat Dan Sejarah Pendidikan Indonesia

Setiap pemikir mempunyai definisi berbeda tentang makna filsafat karena pengertiannya yang begitu luas dan abstrak. Tetapi secara sederhana filsafat dapat dimaknai bersama sebagai suatu sistim nilai-nilai (systems of values) yang luhur yang dapat menjadi pegangan atau anutan setiap individu, atau keluarga, atau kelompok komunitas dan/atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara tertentu. Pendidikan sebagai upaya terorganisasi, terencana, sistimatis, untuk mentransmisikan kebudayaan dalam arti luas (ilmu pengetahuan, sikap, moral dan nilai-nilai hidup dan kehidupan, ketrampilan, dll.) dari suatu generasi ke generasi lain. Adapun visi, misi dan tujuannya yang ingin dicapai semuanya berlandaskan suatu filsafat tertentu. Bagi kita sebagai bangsa dalam suatu negara bangsa (nation state) yang merdeka, pendidikan kita niscaya dilandasi oleh filsafat hidup yang kita sepakati dan anut bersama.

Dalam sejarah panjang kita sejak pembentukan kita sebagai bangsa (nation formation) sampai kepada terbentuknya negara bangsa (state formation dan nation state) yang merdeka, pada setiap kurun zaman, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari filsafat yang menjadi fondasi utama dari setiap bentuk pendidikan karena menyangkut sistem nilai-nilai (systems of values) yang memberi warna dan menjadi "semangat zaman" (zeitgeist) yang dianut oleh setiap individu, keluarga, anggota¬-anggota komunitas atau masyarakat tertentu, atau pada gilirannya bangsa dan negara nasional. Landasan filsafat ini hanya dapat dirunut melalui kajian sejarah, khususnya Sejarah Pendidikan Indonesia.

Sebagai komparasi, di negara-negara Eropa (dan Amerika) pada abad ke-19 dan ke-20 perhatian kepada Sejarah Pendidikan telah muncul dari dan digunakan untuk maksud-maksud lebih lanjut yang bermacam-macam, a.l. untuk membangkitkan kesadaran berbangsa, kesadaran akan kesatuan kebudayaan, pengembangan profesional guru-guru, atau untuk kebanggaan terhadap lembaga¬-lembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu. (Silver, 1985: 2266).

Substansi dan tekanan dalam Sejarah Pendidikan itu bermacam-macam tergantung kepada maksud dari kajian itu: mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistim pendidikan beserta komponen-komponennya, sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial. Sehubungan dengan MI semua Sejarah Pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial. (Silver, 1985: Talbot, 1972: 193-210)

Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta (estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa. Oleh sebab itu sejarah dari pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri, sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih, sampai kepada pendidikan formal dan non-formal dalam masyarakat agraris maupun industri.

Selama ini Sejarah Pendidikan masih menggunakan pendekatan lama atau "tradisional" yang umumnya diakronis yang kajiannya berpusat pada sejarah dari ide¬-ide dan pemikir-pemikir besar dalam pendidikan, atau sejarah dan sistem pendidikan dan lembaga-lembaga, atau sejarah perundang-undangan dan kebijakan umum dalam bidang pendidikan. (Silver, 1985: 2266) Pendekatan yang umumnya diakronis ini dianggap statis, sempit serta terlalu melihat ke dalam. Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan dalam pendidikan beserta segala macam masalah yang timbul atau ditimbulkannya, penanganan serta pendekatan baru dalam Sejarah Pendidikan dirasakan sebagai kebutuhan yang mendesak oleh para sejarawan pendidikan kemudian. (Talbot, 1972: 206-207)

Para sejarawan, khususnya sejarawan pendidikan melihat hubungan timbal balik antara pendidikan dan masyarakat; antara penyelenggara pendidikan dengan pemerintah sebagai representasi bangsa dan negara yang merumuskan kebijakan (policy) umum bagi pendidikan nasional. Produk dari pendidikan menimbulkan mobilitas sosial (vertikal maupun horizontal); masalah-masalah yang timbul dalam pendidikan yang dampak-dampaknya (positif ataupun negatif) dirasakan terutama oleh masyarakat pemakai, misalnya, timbulnya golongan menengah yang menganggur karena jenis pendidikan tidak sesuai dengan pasar kerja; atau kesenjangan dalam pemerataan dan mutu pendidikan; pendidikan lanjutan yang hanya dapat dinikmati oleh anak-anak orang kaya dengan pendidikan terminal dari anak-¬anak yang orang tuanya tidak mampu; komersialisasi pendidikan dalam bentuk yayasan-yayasan dan sebagainya. Semuanya menuntut peningkatan metodologis penelitian dan penulisan sejarah yang lebih baik danipada sebelumnya untuk menangani semua masalah kependidikan ini.

Sehubungan dengan di atas pendekatan Sejarah Pendidikan baru tidak cukup dengan cara-cara diakronis saja. Perlu ada pendekatan metodologis yang baru yaitu a.l, interdisiplin. Dalam pendekatan interdisiplin dilakukan kombinasi pendekatan diakronis sejarah dengan sinkronis ilmu-ihmu sosial. Sekarang ini ilmu-ilmu sosial tertentu seperti antropologi, sosiologi, dan politik telah memasuki "perbatasan" (sejarah) pendidikan dengan "ilmu-ilmu terapan" yang disebut antropologi pendidikan, sosiologi pendidikan, dan politik pendidikan. Dalam pendekatan ini dimanfaatkan secara optimal dan maksimal hubungan dialogis "simbiose mutualistis" antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial.

Sejarah Pendidikan Indonesia dalam arti nasional termasuk relatif baru. Pada zaman pemerintahan kolonial telah juga menjadi perhatian yang diajarkan secara diakronis sejak dari sistem-sistem pendidikan zaman Hindu, Islam, Portugis, VOC, pemerintahan Hindia-Belanda abad ke-19. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan zaman Jepang dan setelah Indonesia merdeka model diakronis ini masih terus dilanjutkan sampai sekarang.